Ketua MPR RI: Seusai Bertempur Semua Harus Bersatu

Minggu, 20 Oktober 2019 | 18:05 WIB
Share Tweet Share

Ketua MPR RI: Seusai Bertempur Semua Harus Bersatu

JAKARTA, SUARA PEMRED - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan jika ada saatnya bertempur dan ada saatnya bersatu kembali. Ia mengibaratkan itu betapa kerasnya kampanye pilpres 2019 ini, dan setelah pilpres mestinya bersatu kembali.

Itulah antara lain yang disampaikan Bamsoet saat pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wapres KH. Ma’ruf Amin di Kompleks Gedung MPR RI Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).

Berikut pidato selengkapnya:
Ijinkan kami dari meja Pimpinan Majelis menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas ketulusan Bapak Prabowo dan Bapak Sandiaga Uno menerima hasil Pemilihan Umum 2019 dengan jiwa yang besar. Ada saatnya kita bertempur, dan ada saatnya kita bersatu kembali. Kata Bapak Prabowo, “Bersatu itu keren”
Untuk itu, terimalah ungkapan rasa terima kasih kami dalam satu bait pantun:

"Dari Teuku Umar ke Kartanegara, dijamu nasi goreng oleh ibu negara. Meski Pak Prabowo tak jadi kepala negara, tapi, masih tetap bisa berkuda dan lapang dada."

Sebagai insan yang beriman, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata‘ala, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita semua diberikan kekuatan dan kesehatan untuk menjalankan tugas konstitusional melaksanakan amanah rakyat dan bangsa Indonesia.

Pada hari ini kita akan melaksanakan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Terpilih hasil pemilihan umum tahun 2019. Sungguh hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi kita semua, bagi seluruh rakyat Indonesia, karena hari ini bangsa Indonesia kembali menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan bangsa, yaitu berlangsungnya pelantikan Presiden dan Wakil Presiden hasil pilihan rakyat Indonesia.

Kami yakin, rakyat Indonesia di seluruh pelosok tanah air, mulai dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai ke Pulau Rote, bahkan di seluruh dunia, saat ini tengah menyaksikan prosesi pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang akan segera kita laksanakan.

Dengan beberapa catatan yang memerlukan koreksi dan evaluasi, kita wajib bersyukur telah mampu menyelenggarakan pemilihan umum serentak yang untuk pertama kalinya dilaksanakan, yaitu pemilihan umum legislatif serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden dalam waktu yang bersamaan.

Keberhasilan menyelenggarakan pemilihan umum serentak adalah bukti bahwa kita telah melangkah maju melaksanakan demokrasi yang semakin baik. Kita bangga memiliki demokrasi yang khas Indonesia, yakni demokrasi Pancasila, demokrasi yang ber-ruh kebangsaan,yang memuliakan, merawat keragaman untuk membangun persatuan dalam perbedaan, serta mewujudkan impian bersama dalam rumah besar Indonesia, Rumah Pancasila.

Di dalam Rumah Pancasila, demokrasi yang kita kembangkan adalah demokrasi yang mencerdaskan dan menciptakan  kesadaran politik masyarakat yang berkarakter kebangsaan, sehingga tidak ada lawan politik yang  harus ditundukan, apalagi dianggap musuh. Lawan politik adalah mitra berlomba untuk berbuat baik, yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Muaranya hanya satu, rakyat harus menjadi pemenang dalam berbagai jenis kompetisi politik.

Atas nama Pimpinan dan Anggota Majelis, kami mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilihan Umum, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, partai-partai politik dan institusi lainnya di tingkat pusat maupun daerah, atas dukungannya menyukseskan pemilihan umum serentak, dan yang paling utama kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah secara sukarela dan penuh dengan kegembiraan berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemilihan umum, hingga sampailah akhirnya pada agenda penting kenegaraan hari ini.

Keberhasilan penyelenggaraan pemilihan umum serentak juga mendapat apreasiasi yang tinggi dari negara-negara lain. Kita patut berbangga karena Indonesia tumbuh menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan atas proses politik yang kita lakukan, telah hadir di tengah-tengah kita beberapa Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, dan Utusan Khusus dari negara-negara sahabat untuk menyaksikan proses pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada hari.
 
Atas nama Pimpinan dan Anggota Majelis, kami memberikan penghargaan yang tinggi dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran yang Mulia. Semoga kehadiran para yang Mulia memberi makna pada kerja sama bilateral dan kawasan di masa yang akan datang.

Sidang Majelis dan hadirin yang kami muliakan,

Kita patut bersyukur, selama lima tahun terakhir ini, sejumlah kemajuan telah kita capai, meskipun sejumlah kekurangan harus terus kita perbaiki. Semuanya adalah berkat kerja keras dan ikhtiar para pemimpin dan seluruh komponen bangsa Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Wakil Presiden Drs. H.M. Jusuf Kalla, pembangunan ekonomi telah banyak mencapai kemajuan dan telah berhasil meningkatkan taraf hidup serta harkat dan martabat rakyat Indonesia. Kita mencatat, di saat negara-negara lain ekonominya melambat, pertumbuhan ekonomi kita selama 5 (lima) tahun terakhir ini kecenderungannya terus mengalami peningkatan; angka pengangguran terus menurun; penduduk miskin juga terus mengalami penurunan, bahkan mencapai angka terendah dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni mencapai 9,41 persen dari sebelumnya 11,22 persen pada tahun 2015.

Selain itu, upaya pemerataan pembangunan juga menunjukkan kinerja yang membaik yang ditunjukkan dengan semakin rendahnya Rasio Gini; Indeks Pembangunan Manusia yang terus meningkat, bahkan masuk dalam status tinggi. Dan pada saat ini, tidak ada lagi provinsi dengan tingkat Indeks Pembangunan Manusia yang rendah.

Konektivitas antar wilayah, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar telah mulai dirasakan manfaatnya. Akselerasi pembangunan infrastruktur yang difokuskan pada konektivitas di sepanjang rantai pasok telah menghubungkan pasar dengan sentra-sentra produksi rakyat, mulai dari pertanian, perikanan, perkebunan, dan industri, termasuk koperasi, usaha kecil mikro dan menengah.

Kita pun mencatat, dalam 5 (lima) tahun terakhir, hasil dari dana transfer ke daerah dan dana desa sudah dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar masyarakat melalui peningkatan kinerja pelayanan dasar publik, seperti akses rumah tangga terhadap sanitasi dan air minum layak, persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan, serta angka partisipasi murni dari pendidikan anak usia dini sampai dengan Sekolah Menengah Atas sederajat.

Selain itu, melalui dana alokasi khusus fisik, Pemerintah juga sudah berhasil membangun berbagai infrastruktur bagi masyarakat, seperti peningkatan jalan, penyelesaian pembangunan jembatan, pembangunan ruang kelas baru, pembangunan laboratorium sekolah, peningkatan dan pembangunan jaringan irigasi, pembangunan rumah dan peningkatan kualitas rumah, serta rehabilitasi sarana dan prasarana kesehatan.

Upaya pemantapan mental ideologi bangsa, pemerintah telah membentuk suatu badan khusus bernama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2018. Hal ini menunjukkan komitmen kuat Presiden Joko Widodo dalam menjaga ideologi bangsa.  Kolaborasi dan sinergitas antara Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila akan mengoptimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam mempertahankan ideologi bangsa. Segenap komponen bangsa harus memiliki keyakinan tentang kebenaran Pancasila, kemudian mempelajari, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebelumnya, Presiden Ir. H. Joko Widodo telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 24 tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.  Lahirnya Keputusan Presiden tersebut telah mengakhiri perdebatan tentang kapan sebenarnya Pancasila dilahirkan oleh pembentuk negara. Dalam Keputusan Presiden tersebut secara tegas dan lugas dinyatakan, sejak kelahirannya pada 1 Juni 1945, Pancasila mengalami perkembangan hingga menghasilkan naskah Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945 dan disepakati menjadi teks final pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai satu kesatuan proses lahirnya Pancasila sebagai dasar negara.

Langkah berikutnya, pemerintah tentu tidak hanya berhenti menjadikan Keputusan Presiden tersebut sebatas dokumen historis saja, tetapi juga harus menjadi dokumen hukum dalam setiap pembentukan peraturan perundang-undangan, dan memberi makna atas ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum negara.

Di samping itu, Keputusan Presiden tersebut juga harus menjadi dokumen akademis yang mewarnai proses pendidikan Pancasila di lembaga-lembaga pendidikan formal dari Pendidikan Anak Usia Dini hingga PergurunTinggi. Oleh karena itu, mata pelajaran Pancasila wajib dimasukkan lagi dalam kurikulum sistem pendidikan nasional. Lebih daripada itu, ke depan kita perlu mempunyai payung hukum yang kokoh dalam bentuksebuah undang-undang mengenai pembinaan ideologi Pancasila.

Dari sisi demokrasi, walaupun sempat diwarnai oleh banyaknya berita bohong dan ujaran kebencian melalui media sosial, namun pada umumnya kematangan rakyat Indonesia dalam berdemokrasi semakin baik. Pembangunan demokrasi secara bertahap mampu menciptakan landasan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, adil, dan sejahtera. Pembangunan demokrasi juga telah berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan, memaksimalkan potensi masyarakat, serta meningkatkan akuntabilitas dan transparansi dalam penyelenggaraan negara.

Kemajuan pesat dalam berdemokrasi ditopang oleh kebebasan pers dan media yang telah jauh berkembang, yang antara lain ditandai dengan adanya peran aktif pers dan media dalam menyuarakan aspirasi masyarakat, dan melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Stabilitas politik, keamanan dan ketertiban juga terjaga relatif baik selama 5 (lima) tahun terakhir, walaupun kita semua sempat terpukul dengan kerusuhan yang terjadi di Wamena, unjuk rasa mahasiswa yang harus menelan korban jiwa, dan kejadian terakhir yang sungguh mengagetkan adalah penusukkan terhadap Meko Polhukam, Bapak Wiranto.

Di bidang diplomasi, Indonesia telah mampu memposisikan secara tepat atas isu-isu global dengan memanfaatkan posisi strategis Indonesia secara maksimal bagi kepentingan nasional dan merevitalisasi konsep identitas nasional dalam politik luar negeri. Indonesia juga telah mampu membentuk dan mempengaruhi peristiwa internasional, mampu mempengaruhi agenda internasional, menjadi stabilisator di kawasan Asia Tenggara. Posisi Indonesia semakin strategis dengan keikutsertaan aktif di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Reformasi birokrasi sebagai penopang keberhasilan pembangunan selama 5 (lima) tahun terakhir telah berada pada jalur yang tepat. Penataan tata kelola secara bertahaptelah ditempuh melalui implementasi e-government yang terintegrasi; penyediaan akses dan informasi publik bagi masyarakat; perluasaan tata kelola pemerintahan yang bersifat terbuka dan setara antar pemangku kepentingan; serta tata kelola yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Pembangunan budaya birokrasi juga telah mengarah pada perubahan mental untuk mewujudkan sumber daya aparatur yang melayani; internalisasi kultur birokrasi yang berkomitmen pada nilai publik dan berorientasi pada warga; serta cara berpikir yang out of the box, sistemik, berwawasan global, inklusif, dan mampu mengelola perubahan.

Dengan berbagai modal dasar dan capaian di bidang pemantapan mental ideologi bangsa, politik, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan yang kita miliki, kita tentunya berharap dapat semakin meningkatkan sinergitas di antara komponen bangsa, sehingga dapat memberikan dukungan penuh kepada kinerja Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024 dalam menerjemahkan visi dan misinya mengantarkan bangsa Indonesia menuju kejayaannya.

Kami meyakini, seluruh keberhasilan yang diraih Presiden Ir. H. Joko Widodo yang akan melanjutkan masa pengabdiannya untuk 5 (lima) tahun ke depan, tidak terlepas dari dukungan dan kerja keras Wakil Presiden Republik Indonesia Drs. H.M. Jusuf Kalla yang sebentar lagi akan memparipurnakan pengabdiannya sebagai Wakil Presiden. Atasnama Pimpinan dan Anggota Majelis, kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Jusuf Kalla atas pengabdian Bapak kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Semoga pengabdian bapak mendapatkan ridho Allah Subhanahu Wata‘ala. Kami memiliki keyakinan, semangat pengabdian Bapak Jusuf Kalla akan terus menyala sepanjang hayat dikandung badan, dan akan dijadikan contoh bukan hanya oleh Wakil Presiden berikutnya, tetapi juga oleh generasi-generasi muda Indonesia di masa yang akan datang.

Tidak lupa kami juga mengucapkan terimakasih yang tulus dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla yang dengan penuh kesetiaan mendampingi Bapak Jusuf Kalla. Tanpa dukungan Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla, kami yakin Bapak Jusuf Kalla tidak akan meraih prestasi seperti sekarang ini.

Untuk itu, ijinkan kami dari meja pimpinan menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Jusuf Kalla dalam sebait pantun:

“Bah Panasa buah durian, tempedding riyala enungeng, temmaka raja pabberena, temakulle rirekeng pappi de cena” Artinya kurang lebih: “Buah nangka buah durian, tak dapat Dijadikan minuman, sungguh besar pengabdianmu, tak sanggup ditakar kebaikanmu”

Sidang Majelis dan hadirin yang kami muliakan,

Pada hari ini, bangsa Indonesia akan memulai lembaran baru dalam kehidupan pemerintahan dan kenegaraan. Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden telah menghasilkan kepemimpinan nasional yang baru, yakni Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Wakil Presiden Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin. Oleh karena itu, sebelum memulai masa jabatannya memimpin bangsa dan negara, Presiden dan Wakil Presiden Terpilih mengucapkan sumpah atau janji, sesuai amanat Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menyatakan: “Sebelum memangku jabatannya, Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama, atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat”.

Sehubungan dengan itu, berdasarkan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2019, kami selaku Pimpinan MPR akan membacakan Keputusan Komisi Pemilihan Umum tentang Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Hasil Pemilihan Umum Tahun 2019.

Marilah kita mengikuti secara seksama dan hikmat, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih hasil pemilihan umum 2019, bersumpah menurut agama Islam di hadapan Sidang Paripurna MPR, yang akan dilanjutkan dengan penandatanganan Berita Acara Pelantikan.

Sidang Majelis dan hadirin yang kami muliakan,

Alhamdulillah, dengan penuh rasa syukur kehadirat Allah Subahanahu Wata’ala, TuhanYang Maha Kuasa, kita telah menyaksikan upacara pengucapan Sumpah Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia hasil Pemilihan Umum 2019. Dengan telah diucapkannya sumpah tersebut, mulai saat ini Saudara Ir. H. Joko Widodo dan Saudara Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin adalah Presiden Republik Indonesia dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 2019-2024.

Dan, kita baru saja menyaksikan peralihan kekuasaan secara simbolik dengan pertukaran kursi Wakil Presiden, Wakil Presiden Drs. H.M. Jusuf Kalla mempersilakan Wakil Presiden Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin menduduki kursi Wakil Presiden. Karena itu, kami mengajak Sidang yang mulia ini dan hadirin untuk memberikan tepuk tangan yang meriah.

Atas nama Pimpinan dan Anggota MPR, serta seluruh rakyat Indonesia, kami menyampaikan “SELAMAT” kepada Saudara Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Wakil Presiden Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin yang telah memperoleh kepercayaan rakyat Indonesia sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk melaksanakan amanah rakyat, bangsa, dan negara dalam kurun waktu 5 (lima) tahun ke depan, yakni terhitung sejak 20 Oktober 2019 sampai dengan 20 Oktober 2024yang akan datang.

Pada kesempatan yang baik ini, izinkan kami menyampaikan kepada Saudara Presiden dan Saudara Wakil Presiden bahwa Saudara berdua telah berhasil meraih simpati dari sebagian besar rakyat Indonesia sehingga saudara dapat terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilu tahun 2019. Dengan demikian Saudara bukan lagi pemimpin satu golongan tertentu saja, akan tetapi telah menjadi milik dan pemimpin seluruh rakyat dan bangsa Indonesia.

Dengan segala capaian yang telah kita raih selama ini, kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa usaha pembangunan dalam rangka menunaikan janji-janji kebangsaan sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur; serta mewujudkan tujuan Indonesia merdeka untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, sungguh merupakan perjalanan panjang dan berliku.

Dalam melintasi medan pembangunan yang panjang dan terjal itu, tantangan kita adalah bagaimana memadukan antara visi dan responsi, antara aspirasi dan kapabilitas. Di satu sisi, kita perlu menjaga kesinambungan pembangunan berlandaskan visi konstitusi, yang memberi prinsip dan haluan direktif berjangka panjang. Di sisi lain, kita juga tak boleh kehilangan fleksibilitas untuk dapat merespon ancaman dan perkembangan yang terus berubah. Sebaliknya, dalam mengerahkan sarana dan kapabilitas untuk menghadapi masalah-masalah temporer, kita tak boleh melupakan gerak kembali ke jalan visi yang lebih permanen.

Kendati perkembangan masa depan sulit diprediksi secara tepat, namun usaha mengantisipasinya jauh lebih baik dari pada tidak mempersiapkannya sama sekali. Untukmengantisipasi masa depan kita harus bisa belajar dari pengalaman masa lalu dan dari pengalaman bangsa-bangsa lain.

Dalam kaitan itu, kita harus memiliki kelapangan kesadaran, bahwa masa lalu itu tidak pernah sepenuhnya gelap dan tidak pernah sepenuhnya terang. Perkembangan sejarah bangsa yang sehat harus bisa memiliki kedewasaan untuk meneruskan yang terang dan meninggalkan yang gelap.

Sebuah bangsa yang tidak bisa melihat sisi gelap dari masa lalu terancam dihukum mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, sebuah bangsa yang tidak bisa melihat sisi-sisi terang dari masa lalu tidak memiliki jangkar untuk menambatkan visi ke depan.

Pengalaman masa lalu dan pengalaman bangsa lain mengajarkan bahwa perkembangan kehidupan bangsa yang sehat memerlukan keseimbangan peran antara negara dan masyarakat. Bila negara terlalu kuat, sedang masyarakat lemah, maka yang akan muncul adalah pemerintahan otoriter. Sebaliknya, bila negara lemah, sedang masyarakat terlalu kuat, maka yang akan berkembang adalah anarki. Yang lebih buruk lagi, bila negara lemah, dan masyarakat juga lemah, yang akan muncul adalah negara gagal.

Pembangunan politik yang sehat memerlukan negara yang kuat serta masyarakat yang kuat juga. Untuk itu, harus ada pembagian peran dan kerjasama yang tepat antara negara dan masyarakat. Di satu sisi, demokrasi yang kita kembangkan harus memperkuat kapasitas negara untuk menegakkan hukum, mengendalikan kekerasan, mengembangkan budaya kewargaan, memajukan kesejahteraan umum, serta menyediakan sarana-prasarana dan pelayanan publik yang lebih baik. Di sisi lain, demokrasi harus menjamin kapasitas rakyat untuk mengartikulasikan dan mengorganisasikan diri dalam memperjuangkan hak-hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial dan budayanya, tanpa represi dan intimidasi baik dari aparatur negara maupun dari elemen-elemen kekerasan dalam masyarakat.

Dengan kehadiran negara yang kuat bersamaan dengan masyarakat yang kuat, diharapkan bisa tumbuh rasa saling percaya, baik antara masyarakat dan negara, maupun antar elemen dalam negara serta dalam masyarakat. Hanya dengan pulihnya rasa saling percaya, institusi-institusi negara bisa lebih kredibel, lebih mampu mengatasi konflik-konflik dalam masyarakat. Itulah tantangan pembangunan politik ke depan yang harus menjadi kepedulian semua pemangku kepentingan di Republik ini.

Semoga, Presiden dan Wakil Presiden senantiasa sukses dalam menjalankan tugas konstitusionalnya, sukses memimpin bangsa dan negara menjadikan Indonesia negara yang berdaulat, bermartabat dan berperan secara aktif dalam membangun peradaban bangsa.


Sidang Majelis dan hadirin yang kami muliakan,

Selanjutnya, untuk memenuhi ketentuan Pasal 111 ayat (8) Peraturan MPR Nomor 1 tahun 2019 tentang Tata Tertib MPR yang menyatakan “Setelah mengucapkan sumpah/janji Presiden dan Wakil Presiden, Presiden menyampaikan pidato awal masa jabatan”. Oleh karena itu, kini tiba saatnya mendengarkan pidato awal masa jabatan Presiden Saudara Ir. H. Joko Widodo dalam Sidang Paripurna ini, kami persilakan.

Terima kasih kami ucapkan kepadaPresiden Republik Indonesia Saudara Ir. H. Joko Widodo, yang telah menyampaikan pidato awal masa jabatan.

Setelah mencermati dengan seksama kesungguhan Saudara Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, kami meyakini bahwa Indonesia semakin optimis menyongsong masa depan yang gemilang.

Pekerjaan besar bangsa Indonesia kedepan adalah tanggungjawab kita semua. Dalam 5 (lima) tahun ke depan, Indonesia akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dinamika lingkungan strategis global diwarnai kompetisi dan perebutan pengaruh negara-negara besar yang telah menempatkan Indonesia pada pusat kepentingan global. Jika tidak siap dan waspada Indonesia dapat tergilas dalam kompetisi global yang tidak mengenal batas dan waktu. Berbaurnya ancaman militer dan nonmiliter mendorong terciptanya dilema geopolitik dan geostrategis global yang sulit diprediksi dan diantisipasi.

Kita juga menyaksikan, ekonomi dunia sedang mengalami ketidakpastian, persaingan semakin tajam, dan perang dagang semakin memanas. Kemudahan arus informasi dan komunikasi juga membawa ancaman tersendiri terhadap ideologi kita Pancasila. Dengan membonceng fenomena globalisasi, nilai-nilai individualisme, liberalisme, dan ekstrimisme telah ditransformasikan secara terstruktur, sistematis dan masif, seolah harus diterima sebagai standar nilai baru yang terbaik dalam pembangunan sistem politik, ekonomi, dan budaya di Indonesia.

Namun, seberat apapun tantangan yang akan kita hadapi, akan terasa ringan jika kita pikul bersama. Kita harus memiliki optimisme yang tinggi, memiliki kesadaran dan komitmen seluruh komponen bangsa untuk memantapkan persatuan dan kesatuan nasional, saling bahu membahu, bergotong royong, ringan sama dijinjing - berat sama dipikul.

Kami mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menjalankan amanat rakyat dengan sebaik-baiknya. Kami yakin dengan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan, perbedaan akan bermuara pada kebersamaan dalam rumah kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan bergotong royong tantangan yang berat akan menjadi terasa ringan. Kita satu saudara, harus bahu membahu, bergandengan tangan meraih masa depan Indonesia yang gemilang.

Semoga Allah subhanahu wa ta‘ala melindungi setiap langkah besar Saudara Presiden dan Wakil Presiden, langkah kita semua untuk kemajuan  bangsa dan negara.


Sidang Majelis dan hadirin yang kami muliakan,

Sebelum mengakhiri Sidang Paripurna ini, marilah kita memanjatkan doa bersama kepada Allah subhanahu wa ta‘ala, Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga Presiden dan Wakil Presiden dan kita semua, dapat menjalankan kewajiban konstitusional, sesuai amanah yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu, kami persilakan kepada Imam Besar Mesjid Istiqlal Saudara Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.,untuk memimpin doa.

Terima kasih kami ucapkan kepada Saudara Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.yang telah memimpin doa. Doa yang membawa kesejukan dan rasa damai bagi kita semua. Semoga Allah subhanahu waa ta‘ala,  Tuhan Yang Maha Esa, membuka pintu-pintu langit bagi kita semua. Aaminn Ya Rabbal Alamin.

Dengan iringan doa yang penuh kesejukan dan kedamaian, mari kita ciptakan suasana yang kondusif untuk mewujudkan janji-janji kebangsaan kita, mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Mewujudkan tujuan Indonesia merdeka untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Sekali lagi kami mengucapkan SELAMAT kepada Saudara Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. H. Joko Widodo, beserta Ibu Hj. Iriana Joko Widodo, dan Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, beserta Ibu Hj. Wury EstuMa’ruf Amin.

Terima kasih dan penghargaan yang tinggi juga disampaikan kepada Wakil Presiden Republik Indonesia ke-sepuluh dan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-dua belas, Bapak Drs. H.M. Jusuf Kalla beserta Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Pimpinan lembaga-lembaga negara, para Yang Mulia Kepala Negara, Kepala Pemerintahan serta UtusanKhusus Negara-negara sahabat, Duta Besar/Kepala Perwakilan Negara Sahabat, undangan dan hadirin, para insan pers dalam dan luar negeri, unsur pengamanan TNI/POLRI, Sekretariat Jenderal MPR RI, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sehingga dapat terselenggara dengan sukses.

“Bernyanyi berdendang sambil gembira, tanah hati sedang bersuka cita, jika berkuasa janganlah lupa, karena rakyatlah kita dipercaya.”

“Jalan-jalan ke gunung jati, singgah di pasar beli kemiri, kita semua harus rela mati, demi mempertahankan NKRI.”

“Terbang tinggi burung merpati, hinggap lama di pohon mahoni, kami titip NKRI pada Pak Jokowi, agar rakyat hidup nyaman dalam harmoni.”

Akhirul kalam, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, agar dapat berkiprah dan mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia tercinta. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, ijinkan kami menutup sidang paripurna ini. Cuci tangan sampai bersih, cukup sekian dan terimakasih.

Wabillahitaufiq Walhidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bambang Soesatyo
Ketua MPR RI

Editor: Munif


Berita Terkait

Komentar