Puan Maharani dan Bayang-Bayang Taufik Kiemas

Senin, 07 Oktober 2019 | 13:31 WIB
Share Tweet Share

Puan Maharani dan Bayang-Bayang Taufik Kiemas

Jika disadari kewajiban dan tanggung jawab moral anggota DPR RI periode 2019 – 2024 ini cukup berat. Pasalnya, citra DPR RI pada periode sebelumnya meninggalkan kesan buram bahkan buruk khususnya terkait dengan RUKPK (Revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi), dan RKUHP (Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Ini sulit terhindarkan.

Karena itu, sebanyak 711 anggota MPR RI yang terdiri dari 575 anggota DPR dan 136 anggota DPD RI, sepertinya sulit keluar dari kesan buruk tersebut, meski pimpinan ketiga lembaga tinggi negara itu adalah orang-orang baru, meski tetap dari kalangan politisi lama yang sudah dikenal masyarakat.

Khusus DPR RI yang dipimpin oleh politisi PDIP yang juga putri alm. mantan Ketua MPR RI Taufik Kiemas – Megawati Seoekarnoputri, Puan Maharani memang sedikit memberikan harapan. Dan, sedikit harapan itulah yang mesti diwujudkan. Apalagi di bawah bayang-bayang ayahnya, maka tanggung jawab moral Puan Maharani sangat berat.

Sebab, rekam jejak Taufik Kiemas semasa menjabat sebagai Ketua MPR RI 2009 – 2014, sangat baik. Memiliki kepiawaian politik sekaligus negarawan yang dihormati dan disegani semua kalangan. Gagasan dan agenda baru MPR RI pun lahir di tengah kegersangan pengamalan Pancasila, UUD NRI 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah masyarakat, bersamaan dengan menguatnya gerakan radikalisme dan intoleransi agama; yaitu ‘Sosialiasi 4 Pilar MPR RI’, yang sangat dirasakan manfaatnya hingga saat ini.


"Jadi, ada harapan baru DPR RI dengan dipimpin oleh seorang perempuan Puan Maharani. Tapi, dia harus meneladani ayahnya jika ingin kepemimpinannya dan citra DPR baik di mata rakyat," tegas pakar komunikasi politik Lely Arrianie, Jumat (4/10/2019).

Apalagi pendidikannya jurusan komunikasi massa di Universitas Indonesia (UI), dan jika tak salah magister dan doktornya di Amerika Serikat, sehingga Lely tidak khawatir dengan sosok Puan Maharani dan Lely yakin akan kemampuan Puan untuk bisa bekerja sekaligus berkomunikasi baik dengan wartawan.

Dulu kata Lely, Pak Taufik Kiemas pernah berpesan; 'Kalau Puan Maharani tampil ke panggung politik, harus berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk rakyat. Kalau tidak, untuk apa?" Karena itu seluruh anggota DPR harus mendukung kinerja pimpinan DPR RI, dengan disiplin kerja anggota. Baik terkait legislasi, anggaran maupun pengawasan.

Untuk itu, Lely menyarankan agar anggota DPR yang baru dilantik oleh Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali pada Selasa (1/10/2019) itu, belajar dari periode sebelumnya jika tak akan bertambah buruk citranya di mata rakyat. Apalagi, semua jabatan eksekutif maupun legislatif diatur oleh partai, dan jika mengulangi kesalahan dan kontroversi dalam membahas UU, Lely khawatir mahasiswa akan demo lagi ke DPR RI.

Demikan pula dengan pimpinan MPR RI yang masih orang lama. Hanya Wakil Ketua MPR RI dari NasDem Ibu Lestari Moerdijat, sosok baru. Tapi, Ketua MPR RI nya adalah mantan Ketua DPR RI yang prosesnya karena banyak masalah di DPR RI terkait Setya Novanto, yang tersandung kasus korupsi e-KTP. "Prestasinya selama memimpin DPR RI juga tak terlihat,” kata Lely.

Sementara itu terkait DPD RI yang dipimpin oleh La Nyalla Mahmud Mattalitti, Lely tak bisa bicara banyak, karena tak banyak mengenal sosok La Nyalla kecuali pernah menjadi tersangka dalam kasus korupsi di KADIN Jawa Timur.

"Bagaimana ya? Susah mengukur kinerja DPD RI selama ini. Semuanya seolah menikmati.jabatan di Jakarta. Padahal, seharusnya mereka di daerah untuk memgakomodir dan menindaklanjuti aspirasi masyarkat daerah. Tapi, buktinya malah berkantor dan tinggal di Jakarta. Sulit ya," kata Lely pesimis.

Namun demikìan, Lely melihat baik DPR, MPR dan DPD RI akan memberikan dukungan untuk suksesnya program pembangunan pemerntahan Jokowi -Ma'ruf Amin ke depan. Hanya saja biasanya menjelang pemilu ada saja partai politik yang seolah menjadi oposisi pemerintah. Hanya untuk mendapat simpati rakyat agar partainya dipilih di pemilu 2024. “Kan selama ini seperti itu. Jadi, susah menebak sikap partai karena kepentingannya berubah-ubah," pungkasnya.

Editor: Munif


Berita Terkait

Komentar