Kamala Harris, “The Real President?”

Kamis, 08 Oktober 2020 | 12:13 WIB
Share Tweet Share

Kamala Harris. [The Washington Post]

Jika terpilih sebagai presiden pada November 2020, Joe Biden akan berusia 78 tahun saat mulai berkantor pada Januari 2021.

Usianya hanya terpaut empat tahun dengan Donald Trump yang kini berusia 74 tahun. Tetapi bedanya, Trump menurut dokter Gedung Putih masih bisa hidup hingga usia 200 tahun. Luar biasa.

Biden adalah politisi ulung yang memulai karier politiknya sejak 1972 sebagai senator. Kemudian ia menjadi wakil presiden dan kini menjadi calon presiden. Biden sangat terkenal. Dia satu-satunya calon presiden beragama Katolik (Partai Demokrat) keempat dalam sejarah Amerika Serikat (AS).

John F Kennedy (JFK) adalah satu-satunya presiden Katolik AS dan Biden adalah satu-satunya wakil presiden Katolik. Sekarang Wakil Presiden AS, Pence adalah seorang Protestan yang dibesarkan sebagai Katolik.

Itu hanya cerita selingan soal agama, dan dalam politik AS kontenporer, agama bukan faktor penentu. Berbeda dengan politik zaman lampau, terutama di abad 18 dan awal abad 20. Thomas Jefferson, presiden AS ketiga (1801-1809) dikritik karena tidak memiliki keyakinan religious.

Menurut Stephen Lendman, peneliti pada Pusat Riset Globalisasi (Centre for Research on Globalization/CRG), isu agama memang sempat menerpa JFK, dimana ada anggapan bahwa agama akan mengganggu pelaksanaan tugasnya sebagai presiden. Tetapi sekarang sudah tidak menjadi faktor determinan.

Buktinya menurut Real Clear Politics, rata-rata jajak pendapat yang dilakukan pada Agustus oleh beberapa lembaga survei, Biden justru lebih disukai dari pada Donald Trump dengan 7,5 poin. Ini agak turun dari keunggulan 9 poin pada jajak pendapat sebelumnya.

Beberapa survei yang dilakukan, termasuk oleh Monmouth, Gu Politics dan YouGov, Biden selalu unggul dua digit. Jajak  pendapat Quinnipiac pada pertengahan Juli lalu menampilkan Biden dengan keunggulan 15 poin atas Trump.

Tetapi belum ada jajak pendapat yang dibuat setelah Kamala Harris dicalonkan menjadi wakil presiden mendampingi Joe Biden. Biasanya, setelah seseorang diumumkan, tak lama keluar hasil jajak pendapat tentang sang calon.

Tahun ini agak unik dalam sejarah politik Amerika Serikat, dimana Partai Demokrat dan Republik menggelar konvensi secara virtual. Untuk Partai Demokrat, Konvensi virtual dimulai 17-20 Agustus dan Partai Republik 24-27 Agustus. Banyak yang bertanya, bagaimana konvensi virtual ini bisa mempengaruhi hasil jajak pendapat. Ini yang masih dikaji.

Dimensia

Yang dikaji saat ini justru usia calon presiden yang terbilang renta. Pada Mei lalu, psikolog terkenal, Profesor Christopher Ferguson mempertanyakan usia kandidat presiden AS dengan kinerjanya nanti. “Berapa besar kemungkinan presiden berikutnya akan menderita demensia?” tanya dia.

Donald Trump adalah presiden tertua pertama dalam sejarah AS. Saat ini berusia 74 tahun, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda melambat secara fisik. Bahkan dokter Kepresidenan mengatakan, Trump bisa hidup hingga 200 tahun jika menjaga pola makannya. Trump memiliki DNA yang kuat. Tetapi pakar kesehatan lain justru meragukan.

Tetapi Ferguson tetap yakin bahwa kemungkinan presiden AS berikutnya akan mengalami penurunan kognitif. Banyak Presiden AS sebelumnya memiliki masalah kesehatan yang serius. Setelah menderita serangan jantung selama masa jabatan pertamanya, Presiden Dwight Eisenhower terpilih kembali untuk masa jabatan kedua.

JF Kennedy menderita sakit parah berkali-kali dalam hidupnya. Beberapa orang yang dekat dengannya mengatakan, "dari sudut pandang medis, JFK berantakan." Presiden Lincoln yang terkenal itu, menderita depresi seumur hidup. George Washington juga memiliki masalah kesehatan saat berkantor. John Adams didiagnosis dengan depresi berat.

Prof Ferguson mengatakan, ada beberapa presiden yang sakit saat bertugas, mulai dari  Jefferson, Madison, Chester Arthur, Woodrow Wilson, Franklin Roosevelt, dan Ronald Reagan.

Sementara beberapa lainnya seperti Lincoln, FDR, Kennedy, William Henry Harrison, Zachary Taylor, James Garfield, William McKinley, dan Warren Harding meninggal saat menjabat.

Prof Ferguson menjelaskan bahwa Reagan didiagnosis menderita alzheimer (bentuk paling umum dari demensia) setelah pensiun. Gejala dimulai saat dia menjabat untuk masa jabatan keduanya. Penyakit ini berkembang dengan lambat, sering tidak terdiagnosa sampai  suatu saat mengganggu aktivitas.

Apakah Biden dan Trump menunjukkan tanda-tanda penurunan kognitif? "Orang dewasa yang lebih tua mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari hal-hal teknis baru, mungkin lebih kesulitan membentuk ingatan baru atau memperhatikan tugas baru," jelas Ferguson.

Saat ini, di AS penyakit dimensia semakin jarang, hanya sekitar 10 persen saja untuk mereka yang berusia 70 tahun ke atas. Yang banyak memang gangguan kognitif ringan, yakni sekitar 20 persen untuk usia seperti ini.

"Probabilitas (Trump atau Biden) menderita demensia adalah sekitar 10%, probabilitas bahwa memilih di antara mereka akan menghasilkan kursi kepresidenan di bawah pengaruh demensia adalah sekitar 19%. Jika kita menggabungkan 10% itu dengan sekitar 20% kemungkinan gangguan kognitif yang lebih ringan untuk individu dalam kategori usia mereka (dengan demikian kemungkinan 30% dari beberapa gangguan secara keseluruhan untuk setiap pria), kemungkinan bahwa salah satu atau kedua kandidat memiliki gangguan ringan atau demensia meningkat menjadi sekitar 51%,”  kata Prof Ferguson.

Biden pernah  menjalani operasi otak dua kali lebih awal. Menurut Science Daily, operasi   major akan berdampak pada penurunan kecil fungsi kognitif untuk jangka panjang. Pasien muda yang lebih sehat mungkin kesehatan kognitifnya dapat cepat pulih dibandingkan orang dewasa yang lebih tua.

Operasi otak Biden terjadi ketika berusia 40-an. Jelas dia bukan orang tua pada saat itu. Pada tahun 1988, Biden menjalani operasi otak dua kali untuk meredakan nyeri leher yang parah akibat saraf terjepit, infeksi virus, aneurismal di dasar otaknya, aneurismal lain di sisi yang berlawanan.

Menurut dokter Capitol Hill, Dr John Eisold, dia (Biden, red)  sudah benar-benar pulih kembali.  Selama belasan tahun terakhir, dia hanya mengalami masalah kesehatan kecil, termasuk sinusitis dan alergi. Menurut ahli bedah otak, Dr Neal Kassell, dia (Biden) tidak mengalami kerusakan otak dari prosedur yang dilakukan.  

Dua Skenario

Biden memilih Kamala Harris sebagai wakilnya yang usianya lebih muda 22 tahun. Partai Demokrat memiliki dua pertimbangan. Pertama, jika terpilih, Biden mungkin secara fisik dan atau kognitif tidak dapat menyelesaikan masa jabatannya. Atau paling-paling dia akan menjadi presiden satu periode.

Kedua, jika Biden terpilih dan menjalani dua masa jabatan, apakah dia akan tetap sehat hingga masa jabatan kedua berakhir? Di sinilah peran Kamala Harris untuk mengisi kekurangan Biden jika kelak dua skenario itu terbukti.

Sebagai catatan, pada bulan Desember 2019, sebanyak 350 psikiater dan pakar kesehatan mental lainnya (jumlahnya meningkat lebih dari dua kali lipat) mengirim surat bersama ke Kongres AS. Mereka memperingatkan bahwa Trump menunjukkan tanda-tanda penurunan kesehatan mental. Beberapa pihak menganggap surat itu bukan kritik tetapi penghinaan.

"Untuk mengatasi perasaan hampa dan kosong yang dihasilkan, dia (Trump) bereaksi dengan apa yang disebut kemarahan narsistik. Dia tidak dapat bertanggung jawab atas kesalahan atau kegagalan apa pun. Kesalahannya dalam situasi itu adalah menyalahkan orang lain dan menyerang sumber penghinaan yang dirasakannya."

"Serangan amukan narsistik ini bisa brutal dan merusak. Kami memohon kepada Kongres untuk menanggapi tanda-tanda bahaya ini dengan serius dan untuk membatasi dorongan hatinya yang merusak,” tulis para psikiater itu.

Ibarat anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu, Pemilu 2020 masih tetap didominasi generasi sepuh. Ya merekalah yang memiliki uang. Menurut Center for Responsive Politics, calon presiden AS pada Pemilu 2020 masing-masing memiliki sponsor dan pundi-pundi keuangan. Bahkan sumber lain mengatakan, kedua kandidat ini telah mengumpulkan lebih dari US$2,7 miliar. Sebagai petahana, Trump sudah mengumpulkan amunisi cukup besar.

Stephen Lendman menulis, di Amerika politisi dibeli seperti pasta gigi. Uang besar mengontrol proses persekongkolan dengan bos partai. Para pemilih tidak dapat menentukan siapa yang akan menjalankan apa yang mereka inginkan atau agenda mereka. Demokrasi di Amerika adalah ilusi murni, tidak pernah nyata dari awal hingga sekarang.

Kritikus politik AS  kawakan ketika masih hidup, Gore Vidal pernah mengatakan: "Saya tidak berpikir bahwa sistem Amerika dalam kemerosotan saat ini layak untuk dipertahankan. Demokrasi Amerika dalam namanya saja adalah sistem dimana banyak pemilihan diadakan dengan biaya besar tanpa masalah dan dengan kandidat yang dapat dipertukarkan, tidak berbeda satu sama lain. Pada saat seorang menjadi calon presiden, (mereka) telah dibeli sepuluh kali lipat…”

Ketika Biden mengumumkan Kamala Harris menjadi wakilnya, New York Time menyebut Kalama sebagai "Wakil Presiden yang didukung oleh bisnis besar." Biden mendapatkan daya tarik di antara para donor penting di Big Finance dan Big Tech.” Dia memilih Harris untuk memperkuat dukungan itu. Wall Street mendukungnya.

 

Penulis

Gusti Lesek
Warga Manggarai, tinggal di Jakarta



Berita Terkait

Komentar