Pilkada Depok, Pilih Satu atau Dua?

Jumat, 25 September 2020 | 07:01 WIB
Share Tweet Share

Ahmad’S - Komunikolog

Oleh: Ahmad’S - Komunikolog

DEPOK, SUARA PEMRED - Rapat pleno terbuka Komisi Pemilihan Umum Kota Depok mengenai pengundian dan penetapan nomor urut pasangan calon Pilkada Kota Depok telah selesai dilaksanakan. Hasilnya Pasangan Pradi-Afifah mendapatkan nomor satu dan pasangan Idris-Imam mendapatkan nomor dua. Dengan demikian kedua kandidat sudah resmi berkampanye menggunakan angka sebagai upaya untuk meraih suara para konstituen. Angka adalah simbol komunikasi yang dapat digunakan untuk menarik dan menyimpan memori ingatan para pemilih. Sehingga angka tentu membantu dan memudahkan mengarahkan konstituen untuk menyalurkan pilihannya.   

Dengan angka menjadi simbol kampanye, maka akan banyak interpretasi makna dari angka yang disandang oleh para kandidat. Selain interpretasi makna juga akan banyak dalil terkait angka untuk bisa memikat dan meraih konstituen. Pilkada Kota Depok hanya ada dua pasangan kandidat yang maju. Berarti hanya menggunakan angka satu dan dua yang dimiliki oleh para kandidat. Pasangan Pradi-Afifah mendapatkan angka satu yang akan tertuang dalam kertas pencoblosan. Angka satu adalah bilangan ganjil. Makna angka satu bisa bermakna kepemimpinan, karena pemimpin hanya satu tidaklah dua atau tiga. Angka satu bisa didefiniskan sebagai karakter yang berani dan tegas, patuh dengan aturan, ambisus dan suka terhadap cobaan dan tantangan baru. Ada juga yang memaknai angka satu adalah simbol juara atau kekuatan yang unggul tak terkalahkan. Angka satu juga memudahkan kandidat dalam berkampanye di lapangan terbuka. Sang kandidat berpidato didepan masa dengan gerakan tangan mengacungkan telunjuk sebagai tanda untuk memilihnya. Masih banyak lagi inovasi dan kreasi yang menggunakan angka satu sebagai pemikat konstituen. Intinya makna angka satu lebih kurang adalah bijaksana dan mempunyai kekuatan bersatu dalam mencapai sebuah kemenangan.  

Jika kita melihat sejarah para tokoh bangsa dan penggerak politik Indonesia seperti Bung Karno, Bung Tomo ketika melakukan orasi dilapangan terbuka untuk membakar semangat persatuan, kedua pahlawan itu selalu menggunakan jari telunjuknya sebagai simbol ajakan bersatu yang penuh kekuatan. Yaser Arrafat pemimpin pembebasan rakyat Palestina (PLO) ketika berpidato menggemakan perlawanan untuk meraih kemerdekaan tak pernah luput menggunakan jari telunjuknya. Jari telunjuk ternyata memiliki pengaruh untuk membawa ke arah mana para pengikutnya bergerak.  

Bagaimana dengan angka dua? Angka dua adalah bilangan genap. Karater angka dua bisa dimaknai sebagai menyatunya dua perbedaan. Bisa juga dimaknai sebagai keseimbangan yang saling melengkapi. Keseimbangan itu terurai sebagai ada siang dan ada malam, ada jahat ada baik, ada api ada air, ada setan ada malaikat. Angka dua seolah menampakan makna yang saling berhadapan dalam keseimbangan. Banyak inovasi dan kreasi untuk membuat angka dua mudah diingat dalam memori konstituen. Pasangan Idris-Imam sebagai petahana misalnya, memberikan makna pesan bahwa angka dua adalah sebagai pesan untuk melanjutkan dua priode kepemimpinannya. Namun angka dua terkadang menjadi kegalauan karena selalu berupaya untuk menyeimbangkan kekuatan.  

Angka dua pernah menjadi sangat populer dalam pesta demokrasi di Filipina sekitar tahun 1980-an. Ketika itu istri tokoh oposisi, mendiang Beniqno Aquino yaitu Corazon Aquino menggunakan simbol angka dua dengan dua jari dalam kampanye menjadi presiden Filipina. Dua jari yang dibentuk dari jari telunjuk dan jari tengah sebagai bentuk huruf “V” yang bermakna victoria atau kemenangan. Hasilnya Corazon Aquino menang sebagai presiden, namun kemenangannya bukan karena simbol dua jari seperti huruf “V”, tapi kemenangan Corazon Aquino sudah seharusnya terjadi karena dia sebagai tokoh yang teraniaya yaitu suaminya mati terbunuh oleh rezim penguasa Ferdinan Marcos.

Bung Karno, Bung Tomo, Corazon Aquino, Yasser Arafat dan masih banyak lagi tokoh orator kelas nasional dan dunia yang selalu menggunakan angka sebagai simbol identitas politik dalam berkampanye. Bagaimana dengan pilkada Kota Depok? Bagi masyarakat Kota Depok yang memiliki hak pilih pada pilkada 9 Desember tahun ini tidak terlalu repot untuk mencoblos calon pemimpinnya. Tidaklah repot karena kertas suara hanya satu lembar yang berisi nomor satu Pradi-Afifah dan nomor dua Idris-Imam. Tentunya para relawan  yang menggalang dukungan untuk mencoblos kandidat nomor satu atau nomor dua sudah mempersiapkan berbagai narasi, strategi dan intrik. Yang terpenting masyarakat sebagai konstituen menggunakan hak pilihnya dengan baik dan benar.

Cara memilih yang baik dan benar adalah mencoblos kertas suara di angka atau digambar dan jangan sampai merobek kertas suara.  Biasanya mendekati hari pemilihan akan semakin gencar dan masif berbagai narasi yang disebar ke masyarakat untuk merayu agar mencoblos satu diantara dua calon yang ada. Bahkan ada narasi yang efektif dan sering digunakan misalnya: “Pilih Satu saja kalau pilih dua tidak syah” atau dengan khas logat betawi: “Ane kalau nyoblos satu aja dah kalau dua mah kagak syah, tar dimarahin bini”.  Masih banyak lagi narasi yang penuh kreatifitas yang akan dibuat oleh team pemenangan dari setiap kandidat pilkada, namun satu hal yang kita sepakati adalah: Selamat berdemokrasi dan Salam Satu NKRI.

Ahmad’S - Komunikolog

Editor: wal


Berita Terkait

Opini

AKU DAN BEKAS WAKILKU

Selasa, 11 Agustus 2020

Komentar