AKU DAN BEKAS WAKILKU

Selasa, 11 Agustus 2020 | 21:56 WIB
Share Tweet Share

Ahmad Suhijriah Komunikolog – Master Ilmu Komunikasi Univeristas Mercu Buana

Oleh: Ahmad Suhijriah

JAKARTA, SUARA PEMRED - Judul artikel diatas, sebenarnya dimaksudkan untuk mencoba menerka siapa yang akan terpilih untuk menjadi pemimpin di Kota Depok. Dua petahana pecah kongsi politik,  yaitu  Idris Abdul Somad dan Pradi Supriatna maju memperebutkan kursi  Wali Kota Depok. Sekarang ini keduanya sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok. Seperti kita ketahui bersama bahwa masyarakat Kota Depok akan melakukan pemilihan kepala daerah yang akan dilaksanakan pada Desember 2020 mendatang.  

Pilkada Kota Depok pada Desember 2020 yang akan datang, memungkinkan menjadi ajang pertarungan politik tingkat lokal antara dua calon petahana. Mohammad Idris yang akrab disapa Pak Kiayi, yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Depok sudah mendapat restu formal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai Demokrat dan Partai Persatuan Pembangunan juga sudah resmi mengusung Pak Kiayi. Mungkin akan ada beberapa parpol lagi yang akan ikut mengusung Muhammad Idris atau yang juga dikenal dengan nama Idris Abdul Somad. Majunya Pak Kiayi ini tentu bagian dari melanjutkan program kerja pembangunan Kota Depok. Kita ketahui bersama bahwa ada 10 program unggulan Kota Depok yang dicanangkan tidak saja sebatas 10 tahun namun bisa dijalankan secara kontinu. Program kontinu itu antara lain adalah subsidi pelajar dari keluarga miskin, pembinaan moral dan ahlak disatuan pendidikan dan bimbingan rohani. Sehingga Pak Kiayi, memiliki cara jitu untuk menjalankan program unggulan tersebut dengan mendatangi masyarakat sekaligus beribadah dari mesjid ke mesjid. Cara itu menggunakan nama yang mudah dan akrab di memori masyarakat yaitu suling (Subuh Keliling).

Pengalaman yang dimiliki Pak Kiayi sudah mumpuni karena sebelum menjadi wali kota, Pak Kiayi pernah menjabat wakil wali kota bersama Nur Mahmudi pada periode sebelumnya. Idris Abdul Somad adalah alumni Pondok Pesantren Moderen Gontor Ponorogo. Selepas dari Gontor, anak dari mendiang Abdul Somad ini melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Doktor di Universitas Imam Muhammad Ibn Saud-Arab Saudi. Setelah menyelesaikan pendidikan di Riyad Saudi Arabia, Kiayi Idris menjalani profesi sebagai dosen pasca sarjana di UIN Jakarta dan Universitas Indonesia. Pengalaman organisasi yang pernah diikuti adalah sebagai Sekjen Ikatan Dai Indonesia (IKADI) dan Sekertaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok.  

Sedangkan Pradi Supriatna yang saat ini sebagai Wakil Wali Kota Depok alias wakilnya Pak Kiayi, berupaya untuk naik tahta ke kursi wali kota. Nama yang lebih akrab dengan panggilan Pradi, didukung oleh Partai Gerindra dan PDIP. Gerindra adalah parpol koalisi nasional yang sebelum pilpres 2019 berkoalisi dengan PKS. Namun setelah pilpres 2019 Partai Gerindra dtingkat nasional lebih mesra dengan PDIP. Rerata beberapa pilkada kedua parpol Gerindra dan PDIP selalu bersama mendukung kandidat kepala daerah. Untuk pilkada Kota Depok, jelas gerindra mendukung Pradi, karena wakil wali kota itu adalah kader Partai Gerindra sebagai ketua DPC Kota Depok. Dukungan kedua parpol Gerindra-PDIP ini merupakan cerminan kemesraan parpol di lingkaran kekuasaan nasional. 

Pengalaman Pradi Supriatna sebelum masuk kedalam karir birokrasi pemerintahan daerah, adalah seorang pengusaha dan aktif merintis karir di organisasi politik yaitu Partai Gerindra. Alumni Managemen Infromatika Universitas Gunadarma Jakarta ini pernah menjadi Bisnis Development PT Guna Bhakti Pertiwi. Selain itu, Pradi juga pernah menjadi Pemimpin Umum PT Aksara Depok Makmur yaitu menerbitkan koran lokal yang popular dengan nama Koran Monde. Nama Pradi selain dikenal sebagai tokoh pemuda Kota Depok juga pernah menjadi Exco PSSI Kota Depok. Dari berbagai pengalaman dan usia yang tergolong darah muda, maka wajar Pradi mencoba untuk melakukan lompatan karir politik yaitu maju sebagai calon Wali Kota Depok. Seperti kata pribahasa bahwa kesempatan hanya datang satu kali yaitu “kalau bukan sekarang kapan lagi”.     

Dua petahana yang menjadi kandidat dalam pilkada Kota Depok sudah memiliki sosok pendamping dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Idris Abdul Somad berpasangan dengan Imam Budi Hartono. Sedangkan Pradi Supriatna berpasangan dengan Afifah Alia. Imam Budi Hartono adalah politikus dan kader dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sekarang ini Imam Budi Hartono yang dikenal dengan sebutan IBH adalah anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Sedangkan Afifah Alia adalah kader wanita dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Afifah adalah seorang pengusaha dan kader wanita dari PDIP. Afifah pernah mengikuti perhelatan politik nasional dalam pemilu 2019 sebagai calon anggota DPR RI dari PDIP dapil Jawa Barat IX yakni Kabupaten Sumedang, Majalengka dan  Subang. Idris Abdul Somad dan Imam Budi Hartono dapat dikatakan sebagai representasi figure politik ulama dan parpol religious. Sedangkan Pradi dan Afifa sebagai reperesntasi partai politik nasionalis plus keterwakilan wanita dalam politik. Melihat parpol pendukung utama kedua kandidat ini bisa dikatakan sebagai pertarungan parpol religious vs parpol nasionalis. 

Barometer dukungan parpol kedua kandidat Idris-IBH dan Pradi-Afifah dapat dilihat dari perolehan kursi parpol di DPRD Kota Depok. Dukungan parpol pasangan Idris-IBH adalah PKS memiliki 12 kursi. Jika ditambahkan dengan Demokrat, PPP dan PAN yang berjumlah 9 kursi maka totalnya 21 kursi. Sedangkan dukungan parpol pasangan Pradi-Afifah (Gerindra-PDIP) adalah 20 kursi. Jika ditambahkan dengan Golkar, PKB dan PSI yang berjumlah 9 kursi maka totalnya 29 kursi. Perbandingan kursi di DPRD Kota Depok antara Idris-IBH dan Pradi-Afifah yaitu 21 versus 29 masih lebih banyak pasangan Pradi-Afifah. Meski demikian dukungan kursi ini bukan sesuatu yang mutlak untuk memenangkan pertarungan kursi wali kota. Karena pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung melibatkan masyarakat sebagai penentu jumlah perolehan suara.      

Politik selalu dinamis, bisa saja terjadi perubahan peta dukungan politik hingga masa pendaftaran ke KPUD Kota Depok. Pertarungan antar kandidat petahana ini, juga ditentukan setidaknya oleh beberapa faktor yaitu kekuatan dukungan kader dan simpatisan parpol serta logistic politik. Pasca Pilkada secara langsung dijalankan, Kota Depok selalu dimenangkan oleh kader PKS. Sehingga dikatakan bahwa Kota Depok adalah lumbungnya PKS. Kader PKS dikenal sangat militan dan mampu merangkul simpaitsan dari berbagai kalangan. Selain itu PKS di Kota Depok juga piawai dalam menggalang koalisi dengan parpol lainnya. Gerindra-PDIP juga memiliki karakter yang hampir sama dengan apa yang dimiliki PKS. Gerindra dan PDIP juga memiliki kader dan simpatisan yang militan. Lalu apa perbedaanya, tentu dari realita pilkada perbedaanya yaitu PDIP belum pernah bisa mengalahkan PKS dalam perebutan kepemimpinan Kota Depok. Perbedaan yang paling realistis antara PKS dan Koalisinya dengan Grindra-PDIP plus koalisinya ada pada logistic pemilu. 

Gerindra-PDIP sebagai partai yang berkuasa ditingkat nasional tentu memiliki logistic politik yang besar. Sedangkan PKS pasca pecah kongsi dengan Gerindra sudah menjadi rahasia umum memiliki logistic politik yang terukur. Mungkin dari keberadaan logistic politik yang besar itu membuat Pradi-Afifah (Gerindra-PDIP) percaya diri untuk mampu menumbangkan dominasi dan hegemoni politik PKS di Kota Depok.    

Ada anekdot yang mengatakan bahwa kemenangan kandidat dalam pilkada sangat bergantung pada “tiga tas” yaitu popularitas, elektabilitas dan isi tas. Jika “tiga tas” itu sudah terpenuhi biasanya sang kandidat berpotensi untuk menang. Jika kandidat kalah meski sudah memenuhi “tigas tas” itu berarti sudah suratan nasib. Selain itu ada sebuah tradisi bahwa petahana selalu dipastikan akan menang. Jika petahana kalah dalam ajang pilkada berarti petahana memiliki masalah berat dengan masyarakat sebagai pemilih. Dengan majunya dua petahana ini diharapkan membuat rasa pilkada Kota Depok tidaklah hambar.     

Ahmad Suhijriah

Komunikolog – Master Ilmu Komunikasi Univeristas Mercu Buana

Editor: wal


Berita Terkait

Komentar