PJJ Tak Efektif, Fahri Minta Mas Nadiem Kembangkan Pendidikan Digital Rakyat

Jumat, 31 Juli 2020 | 11:16 WIB
Share Tweet Share

PJJ Tak Efektif, Fahri Minta Mas Nadiem Kembangkan Pendidikan Digital Rakyat

JAKARTA, SUARAPEMRED- Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah menilai sekolah mandiri atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah pandemi Covid-19 memiliki dampak negatif bagi perkembangan kepribadian anak secara luas.

Akibatnya anak menjadi lupa waktu, lebih suka bermain game dan media sosial (medsos) ketimbang fokus belajar secara mandiri, meski sudah dibimbing oleh orang tua di rumah. Ekses negatif lainnya, menjadi kurang menghormati norma-norma agama.

"Lapor Mas Mendikbud Nadiem Makarim, kemarin numpang sholat di rumah saudara sekitar jam 22.00 malam. Di samping saya sholat, ada 3 anak kecil sedang bermain gadget, 1 nonton YouTube, 1 main game, 1 lagi main Tiktok dengan HP ibunya dan bapaknya yang terbiasa dipakai sekolah," tulis Fahri Hamzah diakun Twitter-nya, Kamis (30/7/2020). 

Fahri dalam keterangannya, Jumat (1/8/2020), menegaskan, untuk melakukan sekolah mandiri ini tidak semua memiliki akses jaringan, gadget maupun paket data. Apabila orang tua siswa adalah seorang yang berkecukupan, tentu hal itu tidak menjadi masalah karena kebutuhan anak mereka akan dipenuhi. 

Tapi, tidqk demikian di kalangan yang miskin, masalah akses itu bisa frustrasi, tidak bisa berbuat apa-apa, guru dan kelas mereka  menjadi tidak terjangkau.

Bahkan bagi anak yang kaya akses dan paket data pun,  juga bisa membuat mereka menjadi  penghuni dunia maya yang palsu, hidup menonton layar kaca (tanpa pengawasan) yang bisa merusak mata, otak dan hati. 

"Mata, otak dan hati anak-anak kita akan rusak, mereka akan menjadi penghuni dunia maya yang palsu," kata mantan Wakil Ketua DPR periode 2014 - 2019 itu.

Menurut Fahri, daripada menerapkan kebijakan sekolah mandiri dengan sistem PJJ yang sudah terbukti memiliki akses negatif yang luas bagi anak,  sebaiknya Mendikbud RI Nadiem lebih baik mengembangkan infrasktruktur digital pendidikan rakyat untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Nadiem dianggap memiliki pengalaman sukses membuat infrastruktur digital bagi tukang ojek online (ojol) yang dikenal dengan aplikasi Gojek, yang diluncurkan pada  2015 lalu. Hasil karya Nadiem pun menjadi salah satu startup transportasi online yang berhasil  menyandang gelar 'Unicorn', serta memantapkan diri sebagai startup pertama asal Indonesia.

"Mas Menteri punya jejak sukses bikin infrastruktur digital bagi tukang ojek. Mengapa tidak diteruskan dengan infrastruktur digital bagi pendidikan rakyat? Dana Kementerian Pendidikan adalah yang terbesar dan mandatori konstitusi kita 20% APBN tiap tahun. Ayo Mas Menteri Kita Bisa!" pungkasnya.

Editor: Munif

Tag:

Berita Terkait

Komentar