DPD RI Menjembatani Konflik Pemanfaatan Lahan PT Inhutani V dan PT PML

Kamis, 25 Juni 2020 | 16:51 WIB
Share Tweet Share

DPD RI Menjembatani Konflik Pemanfaatan Lahan PT Inhutani V dan PT PML

JAKARTA, SUARAPEMRED - Komite II DPD RI aspirasi masyarakat Lampung terkait perjanjian kerja antara PT Inhutani V dengan PT Paramitra Mulia Langgeng (PML). Berdasarkan hasil reses DPD RI pada masa sidang III yang lalu, ada beberapa permasalahan yang telah diakomodir. 

Pertama, pengelolaan kawasan hutan di register 18, 42, dan 44 seluas 56.547 hektar. Dimana pengelolaannya tidak sesuai dengan sebagaimana peruntukannya. "Bahkan ada konflik pemanfaatan lahan di lahan PT Inhutani V dengan masyarakat,” tegas Wakil Ketua Komite II DPD RI Hasan Basri di Gedung DPD RI, Jakarta, Kamis (25/6).

Menurut Hasan Basri, areal garapan petani yang tidak sesuai dengan Peraturan Menteri tentang Perhutanan Sosial. Artinya tanaman yang ditanam tidak sesuai dengan jenis komoditi yang ditanam. 

“Temuan BPK terhadap pemeriksaan PT Inhutani V tentang kerjasama pengelolaan hutan dengan PT PML. Dimana kerjasama itu tidak menguntungkan bagi PT Inhutani V,” jelas senator asal Kalimantan Utara itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite II DPD RI Bustami Zainudin menilai areal lahan yang seluas 56.547 hektar tersebut sangat memprihatinkan. Dirinya melihat kondisi di lapangan campur aduk kepemilikannya. “Ada satu orang yang mempunyai lahan seribu hektar dan seterusnya. Ini sangat mengkhawatirkan,” tambahnya.

Padahal, jika lahan bisa dimanfaatkan secara maksimal akan teratasi ketahanan pangan Indonesia. “Jika kita tanam untuk ketahanan pangan selesai permasalahan. Jika ditanam tebu semuanya dalam areal tersebut maka saya yakin mampu membangun tiga pabrik gula di situ,” kata Bustami.

Direktur PT Inhutani V Bakhrizal Bakri menjelaskan pelaksanaan kerjasama telah berjalan dari tahun 2009 hinga November 2018 atau kurang lebih 10 tahun. PT PML hanya merealisasikan tanaman 7.732 hektar, dimana 6.686 hketar ditanam akasia dan 1.046 hektar yaitu karet dari total areal kerjasama seluas 55.157 hektar (14,01 persen). 

“Salah satu kewajiban PT PML adalah membayar PBB dan angsuran pinjaman dari PT Inhutani V kurang lebih 10 miliar, namun hingga saat ini tidak dilaksanakan,” jelasnya.

Karena itu, Bakhrizal berharap ke depan permasalahan dengan PT PML bisa segera berakhir. Dia juga mengharapkan penataan ulang PT Inhutani V dengan yang lain setelah masalah PT PML selesai. 

“Kedepan kami mau semua terlibat terutama masyarakat. Karena masyarakat juga banyak yg memiliki lahan,” ungkapnya.

Direktur Usaha Hutan Produksi KLHK, Istanto menjelaskan beradasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P81 bahwa PT Inhutani tidak sesuai dengan tanaman komoditi yang semestinya yaitu kayu. Namun justru PT Inhutani V justru menanam singkong. 

“Dalam P81 seharusnya PT Inhutani V bagaimana mengembalikan hutan untuk kebutuhan kayu. Selain itu PT Inhutani V juga tidak boleh diserahkan kepada PT PML, seharusnya dikelola sendiri,” pungkasnya.

Editor: Munif

Tag:

Berita Terkait

Komentar