Laode Ida: Jokowi dan Publik Harus Awasi Para Oknum Pemanfaat Jabatan 

Selasa, 14 April 2020 | 17:15 WIB
Share Tweet Share

Laode ida Komisioner Ombudsman

JAKARTA, SUARA PEMRED - Sterilkan Lingkar Dalam Presiden dalam Kepentingan manfaatkan pengaruh untuk ambil keuntungan uang negara. Ini yang segera harus dilakukan agar kasus surat stafsus Presiden Jokowi yang pada intinya meminta Camat se Indonesia untuk kerjasama pendampingan relawan desa melalui PT amartha mikro fintek. Untung saja hal ini cepat terbuka ke publik. Jika tidak dan terus berlanjut maka akan jadi bagian dari cacat tersendiri dalam pemerintan jokowi.

Kesalahan pertama adalah gunaka kop sekretariat kabinet. Hal ini preseden buruk dan bagian dari ketelodoran atau indikasi maladministrasi tersendiri.

Kekeliruan kedua, merupakan ekspresi dari keinginan oknum-oknum tertentu yang berada di lingkar dalam istana untuk manfaatkan pengaruh jabatan dan atau kesan kedekatan dgn orang nomor wahid di negri ini. Padahal birokrasi seharusnya sudah melangkah jauh ke arah profesionalisme, di mana setiap penanganan proyek ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dan semuanya melalui lelang terbuka. 

Saya sendiri, sejak pertengahan 1990an hingga awal 2000 an, pernah terlibat dalam merancang program program pemberdayaan masyarakat melalui Ditjen Bangda Depdagri (saat ini Kemendagri), dan terlibat langsung dalam pengerahan tenaga pendapat untuk beberapa program pemerdayaan masyarakat di Indonesia. Juga terlibat sebagai konsultan untuk pengembangan peran serta masyarakat termasuk melalui pendanaan dari program World Bank. Tetapi semua yang terlibat di dalamnya, termasuk perusahaan-perusahaan konsultan, terseleksi melalui syarat-syarat yang ketat. Tak ada pesanan dari siapapun. Ini artinya, jika saat ini masih ada oknum yang ada dalam barisan pemerintahan yang bersikap seperti surat dari oknum stafsus presiden itu, maka suatu kemunduran yang luar biasa. Istilahnya "zaman sudah secanggih ini koq masih ada kelakuan yang seperti zaman bahaula". 

Apalagi stafsus itu, konon, masuk kategori milineal. Wah... ini bikin malu generasi ya. Aneh aneh. Jangan jadi contoh.

Yang dikuatirkan oleh masyarakat luas atau publik, jangan sampai cara-cara seperti ini sudah jadi kebiasaan yang selama ini terekspos saja di tengah eksistensi masyarakat atau watch dog kian lemah. Tetapnya, nyaris sudah tak ada LSM yg fokus secara khusus untuk pengawasan administrasi keuangsn negara, apalagi yang bersifat sektoral. Ketika saya dan beberapa rekan membentuk FITRA (Forum Indonesia untuk Transoaransi Anggaran) di awal era reformasi dan saya mengomandoinya sampai tahun 2004, gerakan LSM  masih sangat kuat dan berpengaruh. Namun kini, tak berkebihan kalau dikatakan sudah umumnya meredup.  Sementara pengaruh atau materi adalah sangat dahsyat termasuk melumpuhkan hampir semua elemen idealisme kritis. Apalagi kelompok yang disebut terakhir ini tidak memperoleh topangan pendanaan yang kuat. Maka tidak heran kalau korupsi dan atau pemanfaatkan jabatan kemungkinan semakin tidak terkontrol.

Hal lain yang dikuatirkan publik adalah daya kontrol Presiden Jokowi terhadap orang-orang di sekelilingnya. Jokowi boleh jadi orangnya sangat baik, namun orang-orang di sekitarnya yang kemudian manfaatkannya untuk kepentingan bisnis mereka. Ini akan jadi kian serius di periode kedua beliau.

Laode Ida, Komisioner Ombudsman RI

Editor: Jay

Tag:

Berita Terkait

Komentar