Wartawan Aceh Terus Pasarkan Kopi Penolak Korupsi

Senin, 28 Agustus 2017 | 13:29 WIB
Share Tweet Share

Fikar W Eda Wartawan Aceh

JAKARTA, BANGKIT.CO - Di era yang serba digital nan canggih saat ini mengharuskan para pengusaha khususnya usaha kecil dan menengah (UKM) harus pandai-pandai kreatif dan inovatif mengikuti zamannya. Sebab, kalau tidak, bisa ketinggalan zaman.

Salah satu inovasi tersebut dilakukan oleh pengusaha kopi aseli dari tanah Gayo, Aceh. Para musisi, budayawan dan wartawan dari Aceh terus berusaha memasarkan kopi Gayo itu dengan nama ‘Kopi Penolak Korupsi’. Nama itu kalau disingkat menjadi KPK.

Fikar W Eda budayawan wartawan dari Aceh ini terus mempromosikan kopi KPK ini kepada masyarakat termasuk kepada penyidik KPK sendiri.

Selain di KPK, aksi ini juga telah dilakukan di beberapa tempat seperti Jogya, Bali, Manado hingga Aceh. Kopi Anti Korupsi tersebut berasal dari Perkebunan Kopi Rakyat Tanah Gayo, Aceh di ketinggian 1200-1500 MDPL.

Di tanah Gayo itu, masyarakat Gayo Klasik menyebut kopi dengan istilah "Sengkewe" dan membuat puisi juga mantra ‘Kopi Penolak Korupsi: Wahai sengkewe, aku kawinkan dikau dengan angin, air walimu, tanah saksimu, matahari saksi kalamu.

"Sering kita dengar koruptor merancang korupsi di warung kopi sambil minum kopi, bahkan ada yang ditangkap di warung kopi. Bukan kopinya yang salah, tapi yang salah adalah manusianya yang serakah," kata Fikar.

Kopi Anti Korupsi tersebut berasal dari Perkebunan Kopi Rakyat Tanah Gayo, Aceh di ketinggian 1200-1500 MDPL. Di sana, masyarakat Gayo Klasik menyebut kopi dengan istilah "Sengkewe".

“Gagasan memproduksi kopi KPK ini, muncul dari kalangan penyair dan sastrawan Aceh untuk menjadikan kopi sebagai media kampanye untuk menolak korupsi. Kopi KPK ini mulai dilaunching pada 12 Juli 2017,” kata Fikar.

Mempromosikan kopi KPK itu mendapat support dari wakil gubernur Aceh Nova Iriansyah dan pejabat Direktorat Pencegahan Korupsi KPK, Nanang Farid Syam. Bahkan ratusan penyair dan sastrawan sangat antusias hadir dalam acara launching tersebut.

“Kopi ini merupakan salah satu penunjang dan penopang ekonomi masyarakat Gayo Aceh. Sehingga diharapkan kopi ini makin dikenal di pasar internasional. Bahkan kita mendukung bisa menembus pasar ekspor,” pungkasnya.

Editor: Bangkit 10

Tag:

Berita Terkait

Komentar