Peringatan HAN,  Data Anak-Anak Terpapar Rokok Meningkat

Senin, 27 Juli 2020 | 16:39 WIB
Share Tweet Share

Jauhkan buah hatidari asap rokok(Ilustrasi)

JAKARTA, SUARA PEMRED – Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus diselamatkan dari dampak rokok dengan berbagai upaya penyelamatan melalui kenaikan dan simplifikasi cukai hasil tembakau serta penerapan Kawasan tanpa rokok. Hal ini mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan perwakilan pengurus Fatayat Nahdlatul Ulama bersama dengan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) melalui webinar zoom meeting, Senin (27/7). Tema HAN yang diangkat pada tahun ini adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. 

Fatayat NU bersama dengan PKJS-UI menyampaikan beberapa poin penting yang tertuang dalam policy recommendation pengendalian konsumsi rokok di era “kebiasaan baru” COVID-19, untuk mewujudkan perlindungan anak Indonesia agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. 

Ketua PKJS-UI Aryana Satrya mengatakan, Hari Anak Nasionaldiperingati setiap tahunnya pada tanggal 23 Juli. Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 Pasal 28B Ayat (2) mengamanatkan agar negara menjamin hak setiap anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta hak atas perlindungan dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi. 

Namun konsumsi rokok merenggut hak-hak anak menjadi tidak dapat bertumbuh kembang secara optimal. Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI (2018) menunjukkan angka perokok pada kelompok usia 10-18 tahun meningkat dari 7,2% (2013) menjadi 9,1% (2018). Angka ini jauh dari target RPJMN di tahun 2019 sebesar 5,4% (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2014).

“ Hasil studi PKJS-UI pada tahun 2018 menunjukkan anak-anak dari orang tua perokok kronis memiliki pertumbuhan berat badan secara rata-rata lebih rendah 1,5 kg dan pertumbuhan tinggi badan rata-rata lebih rendah 0,34 cm,” tegas Aryana.

Dampak kejadian stunting tersebut, kata Aryana, berpengaruh terhadap intelegensi anak. Dimana perilaku merokok menimbulkan pergeseran (shifting) konsumsi.  Efeknya, uang yang dapat dibelikan makanan justru digunakan untuk membeli rokok oleh masyarakat miskin. Sehingga nutrisi tidak tercukupi dan akhirnya menimbulkan stunting pada anak.

Untuk mewujudukan perlindungan anak secara optimal, menurut Aryana, dibutuhkan kebijakan pengendalian tembakau yang kuat dan berdampak terutama di era kebiasaan baru pandemi COVID-19, diantaranya melalui mekanisme kenaikan harga rokok. Pemerintah juga diharapakan dapat membuat harga rokok tersebut menjadi semakin tidak terjangkau. Hal ini bertujuan selain menjauhkan anak dari keterjangkauan rokok, juga agar kantong belanja keluarga menjadi lebih sehat. 

“Survei yang dilakukan oleh PKJS-UI pada tahun 2018 terhadap 1.000 responden memperlihatkan bahwa 88% responden mendukung kenaikan harga rokok agar anak-anak tidak membeli rokok,” tegasnya.  

Pendekatan keluarga juga sangat diperlukan dalam mengendalikan konsumsi rokok. Karenanya, Fatayat NU berinisiatif untuk menciptakan lingkungan tanpa asap rokok yang dimulai dari lingkup keluarga, yaitu rumah. 

Mengacu UU Perlindungan Anak, Fatayat NU menyadari bahwa anggota keluarga-  terutama anak-anak dan perempuan- berhak untuk mendapatkan lingkungan yang sehat tanpa asap rokok. 

Selain itu, selama pandemi COVID-19 anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. 

Data Global Youth Tobacco Survey (2019) menunjukkan 57,8% pelajar terpapar asap rokok di rumah, serta 78,4% orang dewasa terpapar asap rokok orang lain di rumah. 

“Beberapa perempuan anggota Fatayat NU sudah menjadikan rumah mereka kawasan tanpa rokok, termasuk di dalamnya tidak ada orang yang merokok, tidak tersedia asbak, tidak tercium asap rokok, tidak ada tempat khusus merokok, dan terdapat tanda dilarang merokok berupa stiker sebagai peringatan untuk tidak merokok di area rumah,” jelas  Ketua Umum Fatayat NU Anggia Ermarini.

Menurut Anggie, mengurangan jumlah konsumsi rokok di era COVID-19 ini tentu sangat berdampak terutama pada pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari. 

“Beberapa dari suami kader Fatayat NU menyebutkan bahwa dengan mengurangi konsumsi rokok terutama di era COVID 19 - yang memang mempengaruhi perekonomian keluarga-  sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan primer, yang sebelumnya uang untuk membeli rokok dapat untuk dibelikan makanan/kebutuhan pokok lainnya,” ujarnya. 

Lebih lanjut Anggie mengatakan, bahwa kegiatan yang dihadiri oleh beberapa Kementerian terkait menunjukkan bahwa perlu adanya keselarasan antar Kementerian dalam membuat regulasi pengendalian konsumsi rokok untuk mewujudkan perlindungan anak secara optimal. 

Anggie menambahkan, fatayat NU dan PKJS-UI dalam momentum peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ini merekomendasikan kepada Pemerintah Republik Indonesia beberapa kebijakan pengendalian konsumsi rokok yang dapat segera diimplementasikan terutama di era Kebiasaan Baru COVID-19. Diantaranya dengan cara menaikkan cukai tembakau untuk tahun 2021 sesuai dengan pertimbangan yang tertulis dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan RI tahun 2020-2024. 

Termasuk melarang penjualan rokok ketengan dan membuat peraturan pelarangan penjualan rokok terhadap anak usia di bawah 18 tahun. Juga bagaimana realisasi dari penerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) secara merata di seluruh Kabupaten/Kota tanpa terkecuali oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

“ Memasukkan agenda promosi kesehatan mengenai penerapan KTR di rumah, yang tidak kalah pentingnya di era COVID-19 oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ,” pungkasnya.()

Editor: Jay


Berita Terkait

Komentar