Pemimpin yang Sederhana  

Rabu, 17 Maret 2021 | 15:44 WIB
Share Tweet Share

Jelang Pilpres AS, 3 November, Joe Biden Tetap Unggul

Leiden is Lijden, memimpin adalah menderita. Pepatah kuno Belanda itu syarat makna, menggambarkan arti kepemimpinan sebagai sebuah amanah dan bukan hadiah.

 

Beberapa tahun terakhir, muncul beberapa figur pemimpin dunia yang dekat dengan kesederhanaan. Kita sebut saja beberapa nama, seperti Ahmadinejad, mantan Presiden Republik Islam Iran yang menjalani hidup dengan sangat sederhana.

 

Presiden Uruguay, Jose 'Pepe' Mujica yang menjabat sejak 1 Maret 2010  menjadi perbincangan komunitas dunia internasional karena kepribadiannya yang sederhana, dan jauh dari kesan eksklusif sebagai seorang kepala negara.

 

Dirinya sering ditemui mengenakan sepatu murah meriah dan setelan pakaian yang jauh dari kesan protokoler kepresidenan. Ia selalu tampil dengan gaya pakaian sederhana.

 

Perdana Menteri Nepal, Koirala juga dikenal sebagai pemimpin yang sederhana. Ia memiliki tiga buah ponsel, salah satunya adalah iPhone, sementara dua yang lainnya sering error.

 

Koirala tak memiliki tanah atau rumah tinggal atas namanya sendiri. Sampai saat dirinya melanjutkan jabatan sebagai Perdana Menteri Nepal, ia ternyata tinggal di kontrakan, selain di kediaman resmi perdana menteri Nepal yang difasilitasi negara.

 

Negara adidaya Amerika Serikat (AS) juga pernah diperintah oleh pemimpin yang sederhana dan merakyat. Kita sebut saja Barrack Obama. Penulis dan peneliti independen, Imtiaz Gul dalam tulisannya di The Express Tribune  mengatakan, seusai inagurasi Presiden Donald Trump, keluarga Obama pindah ke rumah sewaan setelah menghabiskan delapan tahun tinggal di Gedung Putih.

 

Keluarga Obama tidak memiliki rumah hingga saat ini. Obama juga membayar sendiri pengeluaran belanja kebutuhan rumah tangganya, mulai dari tapal gigi hingga tisu toilet, dan sebagainya.  Liburan keluarga juga tidak pernah gratis.

 

Mantan Wakil Presiden Joe Biden juga melakukan hal yang sama. Setelah Mike Pence dilantik menjadi wakil presiden mendampingi Trump, Biden menenteng tas kantornya dan pulang ke rumahnya di Wilmington dengan menumpang kereta api Amtrak Acela Express.

 

Begitulah teladan pribadi yang berintegritas dari dua mantan pemangku jabatan publik tertinggi dari satu-satunya negara adidaya di dunia ini. Biden memangku jabatan publik selama 43 tahun menyusul pemilihan pertama yang dimenangkannya sebagai Senator pada usia 29 tahun. Meskipun telah menjabat 35 tahun dalam Senat plus delapan tahun sebagai wakil presiden.

 

Biden tidak mampu melunasi mahalnya biaya perawatan kanker bagi anaknya.  Anak Biden sendiri bukan orang tak mampu. Ia adalah Jaksa Agung dari Negara Bagian Delaware. Dia juga veteran perang Irak sebelum menjabat Jaksa Agung.

 

Biaya perawatan kanker telah menguras seluruh tabungannya. Datanglah ayahnya untuk membantu. Sayang sekali, jumlahnya tetap tidak memadai. Ketika Joe merencanakan menjual rumahnya untuk menutup tagihan perawatan anaknya, Presiden Obama rela meminjamkan dana dari tabungan pribadinya.   

 

Biden menceritakan kisah pribadinya yang memilukan hati itu di hadapan para pemirsa TV hingga mereka yang menyaksikan mencucurkan air mata. Sayang sekali putra kesayangannya meninggal, sekalipun sang ayah telah memberikan yang terbaik baginya.

 

Baik Obama maupun Biden tidak menyombongkan uang yang berlimpah, rumah dan mobil yang banyak, dikawal oleh aparat keamanan yang ketat setelah tidak lagi menjabat orang nomor satu di negerinya. 

 

Dengan tegap dan senang hati mereka berjalan meninggalkan rumah jabatan.  Obama pulang ke rumah sewaan dan Biden pulang menggunakan sarana transportasi umum.

 

Harta Biden

 

Presiden Amerika Serikat ke-46 itu dikenal sangat sederhana. Ia sesungguhnya tidak miskin, ia terbilang kelas menengah, ia seorang milioner. Majalah Forbes pernah merilis harta kekayaan Biden sebesar US$9 juta atau Rp126 miliar.

 

Sebelum menjadi wakil presiden, ia menjabat sebagai Senator dari tahun 1973 hingga 2009. Selama masa jabatannya, gajinya meningkat dari US$ 42.500 per tahun menjadi US$ 174.000 per tahun. Ketika dia terpilih sebagai wakil presiden, dia mendapat kenaikan gaji lagi dengan gaji sekitar US$ 230.000 setahun.

 

Sejak tidak lagi menjadi wakil presiden, Biden menghasilkan banyak sekali tawaran menulis buku dan menjadi seorang pembicara. Pada November 2009, kekayaan bersih Joe Biden kurang dari US$ 30.000.

 

Associated Press melaporkan, tarif Biden menjadi pembicara berkisar antara US$ 40.000 hingga US$ 190.000. Namun The New York Times mengatakan, Biden juga sering tidak dibayar. Presiden AS terpilih yang mengalahkan Trump itu juga memperoleh US$ 540.000 sebagai profesor di Penn Biden Center for Diplomacy and Global Engagement di University of Pennsylvania.

 

Namun sebagian besar kekayaan Biden diperoleh dari bisnis real estate selain portofolio investasi. Majalah Forbes melaporkan, Biden memiliki dua rumah keluarga di Delaware bernilai total US$ 4 juta. Situs tersebut juga mencatat bahwa Biden memiliki uang tunai dan investasi senilai US$ 4 juta atau lebih serta pensiun federal US$ 1 juta.

 

Walau hidup berkecukupan, Biden adalah pemimpin yang mengajarkan banyak orang tentang pentingnya hidup sederhana, hidup berbagi dan bersolider dengan sesama. Sebagai Presiden Amerika Serikat, Biden menyadari kepemimpinan adalah sebuah amanah dan bukan hadiah.  Leiden is Lijden. (Berbagai Sumber)

 

Editor: Gusti


Berita Terkait

Komentar