Pemilu AS dan "October Surprises"

Kamis, 08 Oktober 2020 | 12:36 WIB
Share Tweet Share

Donald Trump dan Melania Trump. [Istimewa]

Para pakar politik di seluruh dunia tidak perlu lagi berspekulasi tentang October Surprises atau Kejutan Oktober apa yang akan terjadi menjelang pemungutan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada 3 November 2010. Karena kejutan itu sudah terjadi, yakni Presiden Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump terpapar Covid-19.

Dalam politik AS, kejutan Oktober adalah acara media menciptakan isu untuk menarik atau mengalihkan perhatian para pemilih dan mempengaruhi hasil pemilu, terutama untuk pemilihan Presiden AS. Istilah ini pertama kali diciptakan William Casey, ketika dia menjadi manajer kampanye untuk Ronald Reagan, yang memenangkan nominasi dari Partai Republik tahun 1980.

Kalau biasanya kejutan Oktober ini muncul di akhir bulan, kini ini justru lebih awal. Apakah ini pertanda Donald Trump akan terjungkal dari Gedung Putih?

Sejak Trump dan Melania dinyatakan positif Covid-19, rumors beredar kencang: Apakah Trump bisa menjalankan fungsinya sebagai presiden atau dia akan mendelegasikan tugas resmi kepada Wakil Presiden Mike Pence. Kalaupun pulih dan terpilih kembali, jika kondisi kesehatannya memburuk dan dia tidak mampu menjalankan jabatan presiden untuk periode kedua, lalu siapa yang akan diangkat menjadi presiden?

Semua spekulasi yang membingungkan dan memalukan seperti ini jelas memiliki efek demoralisasi pada para pemilih. Jumlah pemilih untuk Partai Republik diperkirakan akan berkurang, dan pemilih yang sebelumnya ragu-ragu kini dengan pasti memilih Joe Biden.

Tidak ada yang menyangka, kejutan Oktober kali ini adalah soal Potus dan Flotus terpapar Covid-19. Potus adalah gelar untuk Presiden Amerika Serikat dan Flotus adalah gelar untuk Ibu Negara AS. Semua menantikan trik apa saja yang akan dilakukan Trump untuk menjungkal lawan politiknya, Joe Biden, menjelang detik-detik pemilihan. 

Dalam debat pertama yang digelar pada Rabu (30/9) di Health Education Campus of Case Western Reserve University and Cleveland Clinic atau Kampus Pendidikan Kesehatan Universitas Case Western Reserve dan Klinik Cleveland, Trump agak kewalahan. Publik kemudian ingin menyaksikan trik politik apa yang akan dibuat Tump untuk kembali menang di debat selanjutnya.

Sayang Covid-19, pandemi yang sangat disepelekan oleh Trump menyerang dirinya. Semua agenda kampanye berantakan. Trump harus menjalani karantina dan tidak bisa lagi berkampanye mengumpulkan massa tanpa memakai masker, sebuah gaya kampanye kesukaannya yang tidak sesuai protokol kesehatan.

Trump yang awalnya hendak menjalani karantina mandiri di Gedung Putih, kini harus dirawat di  Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed. Mengenakan masker dan jas hitam, Presiden Trump berjalan melintasi halaman Gedung Putih pada Jumat (2/3), menuju helikopter Marine One menuju rumah sakit.

Sebelum dibawa ke rumah sakit, Gedung Putih menyatakan, Trump mengalami gejala ringan Covid-19 dan tengah menjalani karantina setelah ia dan istrinya Melania dipastikan positif terkena virus corona. Saat itu, Gedung Putih juga mengatakan, Trump tetap bersemangat dan ia memperkirakan akan cepat pulih.

Tetapi ketika Trump diterbangkan ke rumah sakit, Gedung Putih menyatakan, karena sangat berhati-hati dan atas rekomendasi dokter dan pakar medisnya, presiden akan bekerja dari kantor kepresidenan di Walter Reed selama beberapa hari ke depan.  

Walter Reed yang berada di pinggiran Washington DC, adalah salah satu pusat kesehatan militer terbesar dan paling terkenal di Amerika. Di sinilah biasanya presiden AS melakukan pemeriksaan tahunan.

Direktur Komunikasi Gedung Putih, Alyssa Farah mengatakan, presiden belum mengalihkan kekuasaannya kepada Wakil Presiden Mike Pence. "Presiden yang bertanggung jawab," katanya.

Menurut konstitusi AS, jika Trump karena sakit tidak bisa menjalankan tugasnya, dia dapat menyerahkan kekuasaannya kepada wakil presiden untuk sementara. Itu berarti Mike Pence akan menjadi penjabat presiden sampai Trump bugar kembali dan dapat melanjutkan pekerjaan.

Lawan politik Trump yakni Joe Biden dan istrinya  dinyatakan negatif Covid-19. "Saya harap kejadian ini untuk sebuah pengingat," demikian twit kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat itu setelah mendapatkan hasil tesnya. "Kenakan masker, jaga jarak sosial, dan cuci tangan,” tegas dia.

Ketika Trump terpapar Covid-19, Biden langsung menghapus semua iklan negatif terkait Trump untuk sementara waktu. Biden dan istrinya berharap Trump dan ibu negara cepat sembuh.

Mantan Presiden Barack Obama saat berbicara di acara kampanye virtual untuk Biden, mengatakan, "Meskipun kami berada di tengah pertarungan politik besar dan kami menanganinya dengan sangat serius, kami juga ingin menyampaikan harapan terbaik kami kepada Presiden Amerika Serikat dan ibu negara. Kita semua orang Amerika dan kita semua manusia dan kami ingin memastikan semua orang sehat."

Sean Conley, dokter yang menangani Trump mengatakan bahwa Presiden telah menerima koktail antibodi poliklonal dosis 8 gram sebagai tindakan pencegahan. Obat ini diberikan untuk membantu mengurangi tingkat virus dan mempercepat pemulihan.

Trump juga mengonsumsi seng, vitamin D, famotidine, melatonin dan aspirin, kata Dr Conley. "Sampai sore ini dia tetap lelah, tapi semangatnya bagus," tambahnya. Sementara Ibu Negara terlihat sehat, hanya dengan batuk ringan dan sakit kepala.

Kapan Tertular?

Kapan dan di mana Presiden Trump tertular virus corona? Pertanyaan ini sulit dijawab karena Trump memiliki jadwal sangat padat menjelang pemilihan presiden pada 3 November. Biasanya dalam setiap acara, Trump kerap tidak memakai masker dan sering terlihat tidak menjaga jarak sosial dengan stafnya dan orang-orang lain dalam acara resmi. Malah dalam debat pertama, dia meledek Joe Biden karena sering memakai masker.

Menurut kantor berita Associated Press, Trump mengaku pernah melakukan kontak dekat dengan para pejabat militer atau para penegak hukum dalam wawancara dengan Fox Newspada Kamis (1/10). "Mereka (para pejabat) ingin merangkul dan mereka ingin mencium," kata Trump. 

Namun, Trump dan Melania dites positif Covid-19 setelah Hope Hicks, salah satu asisten terdekat Trump, dinyatakan positif virus corona. Hicks yang berusia 31 tahun itu berpergian bersama Trump di pesawat kepresidenan Air Force One menuju acara debat capres di Ohio.

Saat turun dari pesawat, Hicks tampak tidak memakai masker pada Selasa (29/9). Keesokan harinya, pada Rabu (30/9), perempuan cantik itu terlihat lebih dekat dengan Trump di dalam helikopter kepresidenan Marine One saat menggelar pawai di Minnesota. 

Sebagaimana dilaporkan Bloomberg News, Hicks mengalami gejala-gejala Covid-19 dan dikarantina di pesawat Air Force One dalam perjalanan pulang dari Minnesota. Biasanya, pada masa krisis nasional seperti pandemi Covid-19, publik Amerika Serikat cenderung menggalang dukungan terhadap sang presiden. Akan tetapi sokongan tersebut mungkin belum cukup melindungi sang presiden akibat ulahnya sendiri.

Risiko Medis

Presiden Trump memiliki beberapa risiko ketika dinyatakan positif Covid-19. Dia berada dalam kelompok berisiko tinggi dari sisi usia yakni 74 tahun dan berat badan. Trump secara klinis mengalami obesitas, dan itu merupakan faktor risiko memunculkan penyakit yang lebih parah. 

Menurut US Centers fot Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, orang-orang dalam rentang usia 65-74 tahun menghadapi risiko lima kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit dan risiko kematian 90 kali lebih besar akibat Covid-19, dibandingkan dengan orang dewasa muda antara usia 18-29 tahun. 

"Namun sebagian besar orang yang tertular juga membaik," kata Dr Bharat Pankhania, dari fakultas kedokteran Universitas Exeter kepada BBC.

Analisa awal dari lebih 100 studi, berdasarkan data dari seluruh dunia, menunjukkan risiko pada anak-anak dan orang muda kecil. Namun untuk orang pada usia 75 tahun, diperkirakan satu dari 25 orang yang terkena virus corona, meninggal dunia. Pola yang sama juga dilihat oleh CDC. Badan ini menyatakan delapan dari 10 kematian akibat Covid-19 terjadi pada mereka yang berusia di atas 65 tahun.

Mereka yang berusia sepantar Trump, risiko untuk dirawat di rumah sakit lima kali lebih tinggi dan kemungkinan meninggal 90 kali lebih besar dibandingkan mereka yang berusia 20-an tahun.

CNN melaporkan, pada Juni 2020,  Presiden Trump memiliki berat badan 244 pound dan tinggi 6 kaki 3 inci. Itu memberinya indeks massa tubuh 30,5. Artinya, secara teknis, ia sudah mengalami obesitas ringan. Menurut CDC, obesitas melipatgandakan risiko seseorang untuk dirawat inap akibat Covid-19. 

Trump berjenis kelamin laki-laki, dan secara medis seorang pria lebih mungkin meninggal dunia atau menderita penyakit parah akibat virus corona daripada perempuan. Tetapi tidak diketahui apakah Trump memiliki kondisi medis lain yang dapat menempatkannya dalam kelompok berisiko tinggi. Berdasarkan pemeriksaan fisik terakhir, tekanan darahnya hanya sedikit meningkat. Tidak ada bukti dia mengidap kanker, penyakit ginjal, diabetes, atau kondisi lain yang diketahui membuat orang berisiko lebih tinggi.

Dokter Kepresidenan, Dr Sean Conley mengatakan, pemeriksaan fisik terakhirnya dilakukan pada bulan April 2020, dan "tidak ada temuan yang signifikan atau perubahan untuk dilaporkan." Tetapi setelah pemeriksaan fisik Trump pada tahun 2018, dokter Trump saat itu Dr Ronny Jackson juga mengungkapkan bahwa Trump menjalani CT Ccan kalsium koroner sebagai bagian dari pemeriksaan fisik rutinnya. Skornya 133, dan nilai lebih dari 100 menunjukkan adanya plak dan pasien menderita penyakit jantung. 

Menurut catatan medis resmi Trump, pada 2009 skor kalsium koronernya adalah 34 dan pada 2013 menjadi 98. Skor 133 mengungkapkan telah ada penumpukan plak yang stabil di pembuluh darah Trump, yang menunjukkan penyakit jantung sedang. 

Yang juga mengkhawatirkan adalah Trump memiliki kadar kolesterol dan LDL (kolesterol jahat). Keduanya meningkat secara signifikan dibandingkan dengan tes pada 2017 dan pada 2018,  meskipun Trump menggunakan obat statin yang dikenal sebagai Crestor atau Rosuvastatin. Namun, tidak semua hal tentang kesehatan Trump diketahui oleh publik.

Resiko Ibu Negara 

Ibu Negara Melania Trump berusia 50 tahun. Pada usia ini ia tidak berada dalam kategori risiko tertinggi untuk gejala Covid-19. Tetapi menurut CDC, seiring bertambahnya usia, risiko menjadi sakit parah meningkat. 

Orang berusia 50 hingga 64 tahun memiliki risiko tiga kali lebih tinggi untuk dirawat di rumah sakit karena virus corona dan 30 kali lipat risiko kematian dibandingkan dengan orang berusia 18 hingga 29 tahun. Ibu Negara dan mantan model itu mengatakan, dia mempertahankan pola makan yang sehat dan dalam kondisi yang baik. 

Tetapi pada Mei 2018, dia menjalami apa yang Gedung Putih gambarkan sebagai penyakit ginjal jinak. Tetapi Gedung Putih tidak merinci kondisi atau operasi yang digambarkan sebagai prosedur embolisasi. Prosedur tersebut adalah memasukan tabung ke dalam arteri untuk  menghentikan aliran darah ke tumor.

Selain Trump dan Melania, sejumlah staf Gedung Putih juga positif Covid-19. Sekretaris Pers Wakil Presiden Mike Pence, Katie Miller, mengalami hal yang sama pada Mei lalu tetapi kini telah pulih. Pada bulan yang sama, seorang personel Angkatan Laut AS yang menjadi salah satu pengawal pribadi Trump juga teruji positif virus corona.

Selain itu, Penasihat Keamanan Nasional, Robert O'Brien, sejumlah personel pasukan pengamanan presiden, seorang pilot Marine One, dan pegawai kantin Gedung Putih, juga teruji positif Covid-19. Akan tetapi, Gedung Putih saat itu menyatakan baik Trump maupun Pence tidak tertular. 

Dokter pribadi Trump, Sean Conley merilis pernyataan bahwa presiden dan ibu negara dalam kondisi baik saat ini dan mereka tinggal di dalam Gedung Putih selama masa pemulihan."Saya mengharapkan presiden bisa menjalankan tugas-tugasnya tanpa gangguan selagi pemulihan, dan saya akan memberi tahu Anda perkembangan apa pun pada masa mendatang," tulis Conley dalam pernyataannya.

Editor: Gusti


Berita Terkait

Komentar