Pilihan Rasional, CORE: Longgarkan PSBB Agar Ekonomi Bisa Pulih

Kamis, 21 Mei 2020 | 20:44 WIB
Share Tweet Share

Piter Abdullah/Kompas.com

JAKARTA, SUARAPEMRED-Pemerintah minta masyarakat “berdamai” dengan Covid-19 dengan menggaungkan new normal atau pola hidup baru. New normal alias pola hidup baru ditandai dengan penyesuaian perilaku. Caranya,  dengan menjalankan protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari. "Jadi pilihan rasionalnya, PSBB dilonggarkan atau dihentikan. Sehingga perekonomian secara bertahap berjalan kembali, dengan norma baru," kata Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia (CORE), Piter Abdullah  kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/5/2020). 

Pilihannya, kata Piter, memang sulit melaksanakan PSBB dengan kedisiplinan masyarakat yang begitu rendah. Sementara wabah juga sulit diprediksikan kapan bisa berakhir tanpa adanya vaksin. "Nah, kalau PSBB dilaksanakan,  tentu konsekuensinya  perekonomian terhenti," ujarnya. 

Lebih jauh kata Pria kelahiran Lahat 22 Agustus 1966, kemampuan pemerintah dalam membantu masyarakat terdampak Covid-19 dan dunia usaha akibat terhentinya perekonomian, sangat terbatas. 

Dengan New Normal, lanjut alumnus International University Of Japan, maka masyarakat dengan kesadaran sendiri menerapkan prosedur kesehatan untuk melindungi diri sendiri. "Pabrik-pabrik, mall dan toko, kantor-kantor kembali beroperasi, dengan kesadaran masyarakat untuk disiplin menggunakan masker, meningkatkan kebersihan, menjaga jarak dan sebagainya," terangnya lagi.

Menurut Piter, dengan kondisi New Normal, maka ekonomi secara perlahan akan hidup kembali, namun di sisi lain wabah menjadi lebih panjang. "Ada kemungkinan pasien yang terjangkit virus akan terus meningkat. Namun ekonomi hidup kembali, hanya saja perlambatan pada 2020 sudah terjadi dan tidak bisa dicegah," ucapnya.

Malah Piter memprediksi pertumbuhan ekonomi pada  2020 diperkirakan akan negatif. Meski  pandemic bisa selesai sekitar September 2020, namun recovery sudah bisa dimulai pada Oktober 2020. "Hanya saja pertumbuhan pada 2020 sudah terlanjur melambat pada triwulan II dan III," pungkasnya. ***

Editor: Eko

Tag:

Berita Terkait

Komentar