BI Diusulkan Cetak Uang Rp600 T, Pakar: Bukan Solusi Tepat Saat Ini

Minggu, 17 Mei 2020 | 13:21 WIB
Share Tweet Share

Bank Indonesia

JAKARTA, SUARAPEMRED-Pakar ekonomi dari Unika Atmajaya Rosdiana Sijabat  mengkritik usulan DPR agar Bank Indonesia (BI) mencetak uang Rp600 Triliun untuk membiayai APBN. Karena  langkah itu bukan solusi yang tepat dalam situasi ekonomi akibat pandemic Covid-19. Bahkan tindakan mencetak uang justru malah akan memperpuruk perekonomian. "Karena inflasi akan naik secara drastis dalam waktu yang sangat pendek. Bahkan  hal itu  tidak dapat diabsorsi oleh sektor-sektor riil," katanya di Jakarta, Minggu (17/5/2020).

Lebih jauh Rosdiana mengingatkan  bahwa saat ini sektor riil sedang mengalami pelambatan karena Covid-19, adanya PSBB mau tidak mau memperlambat supply chain di sektor produksi. Oleh karena itu,  Bank Indonesia harus mempertahankan momentum, agar rupiah tidak mengalami pelemahan tajam dalam situasi seperti ini. "Karena itu Bank Indonesia perlu lebih fokus sinkronisasi kebijakan moneter untuk mendukung langkah pemerintah dalam hal mengelola stimulus fiskal keuangan. Dimana saat ini  perekonomian sedang terpukul karena Covid-19," ujarnya.

Lebih jauh Dosen FIABIKOM Unika Atmajaya ini menilai Bank Indonesia telah melakukan pembelian surat utang di pasar perdana. Ini artinya  Bank Indonesia sudah menambahkan likuiditas ke dalam perekonomian. "Jadi pembiayaan terhadap defisit fiskal dapat terbantu," tegasnya.

Rosdiana menambahkan pembelian di pasar perdana ini digunakan Bank Indonesia juga untuk merangsang pasar, bukan dengan serta-merta mencetak uang. Kalaupun kapasitas fiskal masih perlu ditambah, Bank Indonesia masih bisa melanjutkan pembelian surat utang melalui skema private placement. 

Selain membeli surat berharga di pasar perdana, lanjut Rosdiana lagi, Bank Indonesia sudah melakukan injeksi likuditas hingga Rp 503 triliun sejak Januari sampai April 2020 melalui mekanisme quantitative easing. "Jadi usulan mencetak uang bukan solusi. Kita bisa belajar dari negara-negara yang mencetak uang untuk mengatasi krisis ekonomi mereka, kebanyakan berakhir perekonomian yang makin memburuk," pungkasnya. ***

Editor: Eko

Tag:

Berita Terkait

Komentar